
Minggu pagi itu, langit Pasuruan tampak berseri. Di aula megah Ascent Premiere Hotel & Convention Pasuruan, ratusan wajah penuh haru dan bahagia menyatu dalam suasana sakral. Lantunan shalawat, senyum para orang tua, dan jubah hitam berselempang hijau, kuning dan merah menjadi saksi bisu lahirnya para sarjana baru dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Yasini Pasuruan.
Hari itu, STAI Al-Yasini menggelar Wisuda ke-10 Program Sarjana, sebuah momentum bersejarah bagi 97 wisudawan yang berhasil menuntaskan perjalanan akademik mereka. Dari jumlah tersebut, 24 wisudawan berasal dari Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, 33 dari Pendidikan Bahasa Arab, dan 40 dari Manajemen Pendidikan Islam.
Harapan dan Doa untuk Sebuah Perjalanan Baru
Dalam sambutannya, Ketua STAI Al-Yasini, Dr. Akh. Syamsul Muniri, M.S.I tak kuasa menyembunyikan rasa bangga. Dengan suara penuh kebapakan, ia menatap satu per satu wajah para wisudawan, seolah ingin menegaskan bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.
“Saya merasa bangga melihat para wisudawan yang hari ini dikukuhkan sebagai sarjana. Semoga ilmu yang diperoleh membawa manfaat bagi masyarakat dan menjadi bekal dalam mengabdi kepada umat,” ujarnya penuh harap.
Syamsul Muniri juga mengajak seluruh pihak untuk terus memberikan dukungan bagi kemajuan kampus tercinta ini.
“Kami mohon doa dan dukungan semua pihak agar STAI Al-Yasini terus berkembang. Insyaallah, cita-cita kami adalah segera bertransformasi menjadi Institut Agama Islam Al-Yasini, agar kiprah keilmuannya makin luas,” tambahnya optimis.
Lampu di Tengah Masyarakat
Momen yang paling menyentuh hadir ketika Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini, KH. Abd. Mujib Imron, S.H., M.H. memberikan mau‘izhah khasnya. Dalam nada penuh makna, beliau mengibaratkan para lulusan sarjana sebagai “lampu” di tengah masyarakat.
“Dengan gelar sarjana ini, insyaallah kalian akan menjadi lampu penerang di tengah kegelapan zaman. Jadilah pelita ilmu, bukan sekadar pembawa ijazah,” pesan beliau, disambut isak haru para wisudawan.
Tak hanya kata-kata, sang kiai juga memberikan ijazah amalan kepada para wisudawan dan wali mereka—amalan yang diyakini membawa keberkahan dan kecukupan hidup. Sebuah tradisi khas pesantren yang menjadi penanda kuat perpaduan antara keilmuan akademik dan spiritualitas santri di Al-Yasini.
Penutup Penuh Khidmah

Menjelang siang, acara ditutup dengan doa penuh khidmah yang dipimpin oleh Ummul Ma‘had, Ny. Hj. Zakiyyah. Suaranya lembut namun kuat, menggema di seluruh ruangan, menuntun setiap hati untuk bersyukur atas pencapaian hari itu. Dalam keheningan doa, banyak mata yang berkaca-kaca—menyadari bahwa di balik toga dan selempang, tersimpan ribuan doa dari orang tua dan perjuangan yang panjang.
Wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari pengabdian. Dan bagi keluarga besar STAI Al-Yasini Pasuruan, wisuda ke-10 ini bukan sekadar perayaan akademik, melainkan perayaan spiritual dan intelektual—sebuah langkah kecil menuju cita-cita besar: mencetak generasi ulul albab, yang berilmu, beradab, dan berdaya guna bagi umat.[ibn]