
Pasuruan, 28 Oktober 2025 — Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2025, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Yasini Pasuruan menggelar Forum Group Discussion (FGD) bertema “Peta Kajian Mushaf di Indonesia”. Kegiatan ilmiah ini menghadirkan dua narasumber pakar di bidang studi Al-Qur’an: Agus M. Mu’tamid Ihsanillah, Lc., M.A. selaku Majlis Keluarga Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini, dan Dr. Abdul Hakim Syukrie, M.Si. dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Jakarta.
Dalam paparannya, Agus M. Mu’tamid Ihsanillah membedah tema “Rasm Utsmani: Misteri Penulisan Al-Qur’an”. Ia menjelaskan bahwa penulisan mushaf dengan rasm Utsmani bukan sekadar tradisi tulis-menulis, tetapi mengandung dimensi spiritual, historis, dan linguistik yang mencerminkan keotentikan wahyu.
“Rasm Utsmani bukan hanya soal ejaan atau huruf, tetapi simbol dari penjagaan Allah terhadap keaslian Al-Qur’an. Setiap lekuk hurufnya menyimpan makna dan sejarah panjang dalam perjalanan mushaf,” ungkapnya.
Sementara itu, Dr. Abdul Hakim Syukrie, M.Si. menyoroti peluang riset Al-Qur’an di era modern. Ia menyampaikan keprihatinannya atas dominasi penelitian Al-Qur’an yang justru banyak dilakukan oleh kalangan non-Muslim di Barat.
“Kita perlu membangun kesadaran riset Al-Qur’an dari perspektif keilmuan Islam. Banyak aspek yang bisa dikaji — mulai dari filologi mushaf, digitalisasi teks, hingga tafsir kontekstual yang relevan dengan kehidupan modern,” ujarnya.
FGD ini berlangsung secara interaktif dan diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta santri dari Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini. Diskusi mengalir hangat dengan berbagai pertanyaan kritis seputar metode penyalinan mushaf, standar penulisan Al-Qur’an di Indonesia, hingga arah pengembangan kajian Al-Qur’an di perguruan tinggi Islam.
Ketua STAI Al-Yasini, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum ini. Ia menegaskan pentingnya Hari Santri sebagai momentum memperkuat kontribusi pesantren dan perguruan tinggi Islam dalam khazanah keilmuan Al-Qur’an.
“Santri tidak hanya identik dengan penghafal Al-Qur’an, tetapi juga harus menjadi peneliti dan pengembang ilmu Al-Qur’an. Dari pesantrenlah lahir gagasan besar tentang Islam yang moderat dan ilmiah,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, STAI Al-Yasini berharap dapat memperluas jejaring akademik dan riset Al-Qur’an, sekaligus memperkuat posisi lembaga sebagai pusat kajian keislaman yang berakar pada tradisi pesantren dan terbuka pada pengembangan ilmu modern.