
Malang — Sabtu pagi, 25 Oktober 2025, aula utama Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dipenuhi wajah-wajah bahagia. Di antara toga hitam dan senyum haru para wisudawan, satu sosok tampak menonjol dengan ketenangan khas seorang pendidik: Dr. Mohamad Mishbahuddin, M.Pd.I.
Hari itu, Wakil Ketua I Bidang Akademik STAI Al-Yasini Pasuruan resmi menyandang gelar Doktor. Namun, lebih dari sekadar gelar akademik, perjalanan panjangnya menuju sidang promosi pada 12 Juni 2025 adalah sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana manusia tumbuh ketika didukung dan dimengerti.
Menemukan Esensi “Menuntun” Mahasiswa
Dalam disertasinya, Dr. Mishbahuddin meneliti faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan mahasiswa dalam menulis skripsi. Dari hasil penelitian yang ia jalankan dengan penuh kesungguhan, muncul satu kesimpulan yang sederhana namun bermakna: potensi akademik tidak akan berkembang tanpa dukungan sosial dan emosional yang memadai.
Ia mengurai pandangan ini dengan cermat, berlandaskan teori sosiokultural Lev Vygotsky, terutama konsep Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding.
“Mahasiswa memiliki kemampuan yang luar biasa,” ujarnya suatu ketika. “Tapi mereka membutuhkan jembatan—dukungan dari dosen pembimbing dan lingkungan sosial yang memahami proses mereka.”
Menurutnya, dosen pembimbing bukan hanya penilai hasil karya, melainkan penuntun yang sabar, membantu mahasiswa melangkah di zona perkembangan terdekatnya hingga mencapai kemandirian akademik.
Inspirasi dari Sang Mu‘allim
Menariknya, Dr. Mishbahuddin tidak berhenti pada teori Barat. Ia mengaitkan temuannya dengan teladan Rasulullah ﷺ sebagai mu‘allim (pendidik) dan muyassir (pemberi kemudahan).
“Rasulullah selalu mengajarkan dengan kelembutan, memahami setiap murid sesuai kemampuannya, dan menumbuhkan semangat tanpa tekanan,” ujarnya lembut.
Dalam pandangannya, prinsip muyassir—memudahkan dalam proses belajar—adalah inti dari pendidikan yang beradab.
Dengan pendekatan yang demikian, disertasinya menjadi perpaduan harmonis antara teori psikologi modern dan nilai-nilai profetik Islam, menjadikannya bukan sekadar karya ilmiah, melainkan kontribusi spiritual bagi dunia pendidikan.
Dari Kampus Al-Yasini untuk Dunia Akademik
Sebagai Wakil Ketua I Bidang Akademik STAI Al-Yasini Pasuruan, Dr. Mishbahuddin dikenal sebagai sosok yang lembut namun tegas, membimbing mahasiswa dan dosen muda dengan keteladanan. Ia sering mengatakan bahwa kampus bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang tumbuh bagi manusia.
Rekan-rekan sejawatnya menyebut beliau sebagai pendidik yang mendidik dengan hati. Mahasiswa sering merasa didengarkan, bukan dihakimi.
“Beliau selalu bilang, skripsi itu bukan ujian hidup, tapi latihan berpikir dan belajar memahami diri,” kenang salah satu mahasiswanya dengan senyum.
Ilmu yang Menyala dari Kelembutan
Kini, setelah resmi menjadi doktor, Dr. Mishbahuddin ingin mengembangkan sistem bimbingan akademik yang lebih humanis di lingkungan STAI Al-Yasini. Ia berharap setiap dosen dapat menjadi pembimbing yang muyassir—memberi kemudahan, memotivasi, dan menumbuhkan semangat belajar mahasiswa.
“Tugas pendidik bukan hanya mengajar, tapi menyalakan semangat belajar. Ilmu tidak akan tumbuh di bawah tekanan, tetapi dalam suasana kasih dan kepercayaan,” katanya menutup dengan senyum tenang.
Di balik toga dan gelar barunya, Dr. Mohamad Mishbahuddin tidak hanya membawa gelar Doktor Pendidikan Bahasa Arab, tetapi juga pesan abadi tentang kemanusiaan dalam pendidikan — bahwa sejatinya, mendidik adalah menuntun, bukan menghakimi; memudahkan, bukan mempersulit.